Keriuhan Malam

Rombongan pria paruh baya dengan bergegas berdiri dan berbaris dengan rapi di sebuah lorong pintu kedatangan, dengan begitu bersemangat mereka menyapa satu persatu penumpang yang baru saja turun.

Mereka yang berada pada barisan terdepan adalah yang datang paling awal untuk mengantri, dan sebagian lainnya harus menunggu di sisi luar bangunan.

Halaman stasiun sudah terlihat ramai oleh banyaknya keluarga yang sedari tadi menunggu kedatangan sanak saudaranya, jabat tangan serta pelukan segera mewarnai suasana malam yang seketika berubah menjadi hangat.

Saya segera beranjak meninggalkan pintu utama kedatangan kemudian duduk dibawah pohon beringin tepat di depan pintu stasiun, sebuah tempat favorit untuk sejenak merenggangkan badan setelah menempuh lebih dari 12 jam perjalanan.

Begitulah adanya dan selalu terjadi, obrolan ringan mulai mengalir secara spontan mencari sedikit ruang diantara sudut-sudut keramaian.

Saya selalu menyukai peristiwa seperti ini, berbicara serta berbincang dengan mereka yang selalu bersemangat dalam mengejar impian hidupnya. Meskipun tidak memberikan sesuatu yang lebih, namun sapa serta canda selalu membuat obrolan kami terasa istimewa.

Kesederhanaan semacam ini memberikan kebahagiaan tersendiri.

Becak Stasiun Kereta Api Kediri
Becak Stasiun Kereta Api Kediri

Iring-Iringan Doa

Malam pun bergerak semakin larut, semilir angin mulai terasa dingin, halaman stasiun yang tadinya ramai sekejap kemudian menjadi sepi, maklum saja karena kereta yang telah menghantarkan saya pulang adalah kereta terakhir yang singgah di kota ini.

Dan kemudian pada bagian akhir cerita hari ini, sedikit doa perlahan mulai terucap di dalam hati.

Untuk mereka yang sedang berada di tempat ini, mereka yang tidak menyerah kepada keadaan serta tetap memegang teguh harapannya, semoga bangku bangku kosong tersebut segera terisi, dan malam ini dapat dilalui dengan membawa sebuah senyuman, juga sedikit rejeki bagi keluarga yang sudah menantinya untuk pulang.

Becak laju putaran roda yang tergilas zaman.