Visualisasi di saat pagi mulai menjelang

Waktu telah menunjukkan pukul 05.00 lewat beberapa menit, udara di sekitar terminal terasa lebih dingin dari biasanya. Matahari pagi belum juga menampakkan secercah sinarnya, tertutup awan serta tinggi gedung-gedung perkantoran.

Seseorang terlihat sedang sibuk dengan kotak-kotak kayu disana, perlahan namun pasti memindahkannya satu demi satu, kemudian menutupinya dengan lembaran-lembaran plastik. Tubuhnya sudah renta, terlihat bongkok, dan pada waktu berjalan pun juga terlihat bongkok.

Saya tidak sempat menanyakan namanya, datang dari kota Solo dan sekarang tinggal serta tidur di emperan sebuah perusahaan travel di Jakarta. Tidak nampak teman, tidak juga sanak saudara.

Perempuan tua di sudut sepi pagi
Perempuan tua di sudut sepi pagi

Lalu datang seorang sopir menghampiri dan berbicara;

Sudah biasa seperti itu mas, dibilangin juga ga mau, tapi dia ga pernah minta, malah seringnya ngasih. Saya pernah juga di kasih, kalau saya tolak dongkol dia, ujarnya.

Berjualan buah untuk bisa bertahan hidup, bersemangat bangun sepagi mungkin untuk memulai sebuah karya kehidupan. Tidak ada kendaraan, tidak juga kemewahan, hanya ada tapak kaki yang masih kuat untuk menopang raga, serta tubuh yang masih kuat untuk bekerja.

Di Sudut Persimpangan

Ia pun tersenyum, menatap saya, berbincang sebentar, kemudian pergi.

Pagi sering kali memberikan sebuah inspirasi di sela perputaran waktunya. Cerminan tentang bagaimana seharusnya manusia menjalani kisah kehidupan yang sudah di gariskan baginya, tidak perlu menunggu kaya hanya untuk memberi, tidak perlu menunggu hanya untuk berbagi.

Memberi dengan segala kekurangan yang Ia miliki adalah sebuah pemandangan langka dan sulit untuk bisa saya jumpai pada masa seperti ini.

Sebuah episode kehidupan di antaranya tingginya mall serta gedung-gedung mewah ibukota.

Hidup adalah sebuah pilihan