Dari rumah ini, segala kisah dimulai.

Sebuah Ingatan

Dinginnya angin yang berhembus diantara retakan dinding, serta air hujan yang selalu menerobos melewati celah genting dan membanjiri lantai tanah di rumah kami, tidak sedikitpun menghalangi sejuknya pagi yang datang bersama hangatnya sinar mentari keesokan harinya.

Nyanyian nokturnal bersautan seiring malam mulai menjelang, kicauan prenjak merdu memencar pada pucuk tertinggi pohon jati setiap pagi, burung-burung manyar yang membangun sarang pada ujung dahan ranting pohon bambu di belakang rumah, tidak pernah tertinggal, riuh memenuhi udara.

Pada waktu tersebut belum ada listrik, hanya ada kegaduhan riang dibawah temaram bintang serta rembulan. Belum ada gadget, hanya ada luapan kegembiraan di ladang serta tanah lapang, tempat kami bermain bola plastik serta layang-layang.

Sejenak bijak

Malam beranjak semakin larut, si kecil dan ibunya sudah terlelap dalam tidurnya, di tempat ini saya masih saja terjaga, hanyut dalam doa serta renungan.

Sudah banyak hal telah berubah seiring waktu berjalan, dan apa yang Tuhan berikan sudah pasti yang terbaik. Semoga, dengan semua kebaikan yang telah kami terima tersebut, kami dapat menyampaikannya juga kepada orang-orang yang membutuhkan melalui ungkapan syukur.

Dan jika direnungkan kembali dengan bijak, kebaikan itu seperti air yang mengalir dari sumber mata air yang jernih, tidak akan pernah berhenti, menyejukkan dan memberikan kehidupan.

Begitu pula seperti sepotong kalimat yang ditulis merdu dari “shadana”

Semua akan menjadi baik, dan semua akan menjadi baik; dan segala macam hal ikhwal, akan menjadi baik”.