Cahaya matahari sudah mendekati titik puncak tertinggi, namun segarnya udara pegunungan di kota ini sepertinya enggan untuk pergi, meneduhkan, menyejukan.


Mata saya tertuju pada suatu bagian di sudut jalan utama, perempuan-perempuan dengan pakain khas adat jawa, dengan dandanan yang sudah tidak lagi di kenakan dalam kehidupan modern abad ini.

Mereka terlihat duduk bersandar di depan sebuah emperan toko yang sudah tutup, di sisi yang lain lalu-lalang kendaraan bermotor serta pejalan kaki melintas bergantian melewatinya.

Pedagang buah berjualan di depan emperan toko di jalanan utama kota Salatiga

Sudahkah dalam setengah hari ini, ada yang melihat apa yang sedang mereka tawarkan? ataukah hanya duduk merenung saja yang hanya dilakukannya?, bagaimana bila sehari ini nanti tidak ada satupun orang yang datang untuk membeli?, apakah mereka akan tetap bersabar dengan pekerjaan serta hidup yang sedang dijalaninya?

Hal-hal kekhawatiran tersebut tiba-tiba muncul memenuhi seisi otak di kepala saya.

Perempuan-perempuan berusia paruh baya, berjuang dengan tenaga serta pengharapan yang ia miliki, melakukan daya upaya dalam mengarungi deras laju kehidupan, hal yang mungkin terlihat biasa dan dengan mudah dapat di jumpai pada banyak tempat di negeri ini.

Namun, siang itu ada sesuatu yang mendesir, seperti mengetuk-ngetuk relung sanubari, menawarkan sebuah wejangan serta pemahaman bagi saya yang sedang mencari pencerahan.

Bahwasanya ada sebuah relasi antara hikmat, ketenangan serta kesabaran, sebuah kesabaran dengan segala kesederhanaannya, tampak terlihat begitu mudah untuk diucapkan, namun sangat sulit untuk dilakukan.

Lihatlah, untuk menjadi sabar diperlukan sebuah hikmat serta kebijaksanaan, ia tidak pernah ada, jika ketenangan di dalam jiwa tidak bertumbuh di dalamnya.

Lalu bilamana cara menumbuhkan ketenangan?, Ia hadir ketika rasa syukur telah mengalir memenuhi akal dan pikiran, terwujud dalam tindakan, bukan hanya suara, menghalau segala hal kekhawatiran, memberikan terang, sebuah kesabaran.

Bagi orang muda, sangatlah sulit untuk menjadi tenang, sangatlah sulit untuk menjadi sabar, sangatlah sulit untuk menjadi bijak.

Seperti sumber mata air di gunung yang tak terambah kepengapan, jadilah tenang, jadilah tenang, jadilah tenang.