“Tetapi begitulah kehidupan disini, terhimpit laju modernisasi yang timpang, dan absurditas kebahagiaan”.

Mereka tidak mengemis ataupun meminta, mereka berjuang dengan jari serta kekuatan tangan mereka sendiri, setiap pijatan dijalani dengan penuh kesabaran, perlahan satu demi satu. Lalu siapakah yang akan menemani disaat lelah mulai menghampiri? Atau bilamanakah jika perasaan sepi serta rindu dengan tiba-tiba datang, menolak untuk pergi dan menjauh?

Mereka tidak bisa melihat, hanya mendengar, tutur bahasa dari daerah yang masih tertata dengan halus, mencerminkan lamanya waktu yang telah mereka lewati. Di usiannya yang sudah senja, sudah seharusnya mereka beristirahat, lebih banyak menikmati kehidupan dan semakin mendekatkan diri kepada Hyang Esa, bukan lagi sebagai tulang punggung utama, mencari sedikit rejeki dalam mengarungi derasnya laju kehidupan.

Beberapa dari mereka tinggal jauh dari anak serta istri yang berada di luar kota, sebagian masih berkesempatan tinggal bersama di kota ini. Kurang lebih 20 ribu rupiah, bayaran atas setiap jerih payah yang dilakukan, itupun tidak setiap hari ada tamu yang datang berkunjung.

Dalam hiruk pikuk keramaian para pemudik yang sedang sibuk mencari tiket, beberapa dari mereka tidak akan pulang untuk lebaran di tahun ini.

Apakah mereka bersedih di dalam hatinya?


Penghiburan

“Keluarga sehat pak?
“Sehat mas, pokok awake sehat, penak, keluarga guyub rukun, diparingi waras, kuwi sing paling penting”.

Dan seperti itulah ungkapan syukur itu terucap serta terdengar dengan sederhana, tetapi, saya merasa, kata-kata tersebut di ucapkan hanya sekedar menghibur diri.

Bagi beberapa orang, bahagia itu adalah tentang segala suatu hal yang muluk. Namun bagi mereka, setiap obrolan ringan, guyonan, serta cerita tentang pengalaman hidup di masa lalu yang coba mereka kisahkan kembali kepada beberapa tamu yang tergelitik untuk sejenak meluangkan waktu, serta mau mendengarkan, sering kali membuahkan tawa serta senyuman di bibir, menghiasi guratan-guratan wajah yang termakan oleh usia, memberikan sedikit penghiburan di hatinya.

Satu dari beberapa hal membuat saya terkejut, sebagian dari mereka mampu memulai aktifitas kesehariannya secara mandiri. Tidak ada yang mengantar pada saat mereka berangkat ataupun pulang dari tempat dimana mereka bekerja,

“ya kalau mau ada yang ngatar, uangnya kan ga cukup mas”.

Slipi, CA. 2010-2014