Dan pada hari berikutnya, kami mengunjungi sebuah tempat yang di beri nama dengan Kambira.
Potrait CA. 2010
Potrait CA. 2010

Di antara rerimbunan pepohonan bambu yang berdiri menjulang tinggi, terdapat sebuah pohon yang disebut oleh penduduk setempat sebagai pohon tarra, pohon yang dilihat dari penampakanya sedikit berbeda dari pohon pada umumnya, penuh dengan lubang serta tempelan ijuk berwarna hitam berbentuk persegi.

Hal yang menarik dari pohon ini adalah karena, pohon tarra merupakan jenis pohon yang di pilih serta di percaya oleh masyarakat yang masih memiliki kepercayaan terhadap ajaran nenek moyang (aluk todolo), sebagai sebuah tempat persemayaman terakhir bagi bayi-bayi yang telah meninggal dalam keadaan suci.

Pohon Tarra desa Kambira
Pohon Tarra desa Kambira

Masyarakat adat Toraja percaya, bahwa bayi yang meninggal sebelum menumbuhkan gigi adalah bayi yang masih suci dan belum berdosa. Bayi-bayi tersebut akan ditempatkan pada lubang pohon yang sudah dipersiapkan sebelumnya, kemudian ditutup rapat dengan ijuk, di biarkan terserap dan menyatu dengannya.


Ajaran nenek moyang

Mereka juga meyakini bahwa pohon serta getah dari pohon Tarra merupakan symbol rahim serta air susu ibu yang baru bagi bayi-bayi tersebut. Dengan menguburkan bayi yang telah meninggal ke dalam pohon, berarti mereka telah mengembalikan roh serta jiwa bayi tersebut bersatu dengan alam, kembali kepada penciptaNya.

Pohon Tarra sebuah keunikan budaya di Tana Toraja.