Malam beranjak semakin larut ketika kami singgah sejenak dan menjejakkan kaki di kota ini. Seorang anak laki-laki kecil, kurus dekil dengan celana pendek serta sendal jepit melintas tepat di hadapan saya, di depan halaman sebuah restauran siap saji. Seketika Ia menawarkan barang dagangan yang di bawanya dengan tangan kanan, seikat kerupuk singkong di tenteng dengan tali rafia, kemudian di tawarkan per bungkus seharga 2000 rupiah.

Masih ada beberapa ikat disana yang belum terjual.

3 bocah di sudut malam
3 bocah di ujung malam

Kamu masih sekolah?? Sebuah pertanyaan secara spontan keluar membuka dialog sederhana antara 2 anak manusia yang belum pernah bertemu sebelumnya.

“Iya pak saya masih sekolah” jawabnya dengan penuh harap.
“Kenapa malam-malam masih jualan”?
“Iya pak, nenek sedang dirawat” sahutnya kemudian.

Saya tidak tahu, apakah cerita yang di sampaikannya hanya rekaan ataukah benar adanya.

“Ini ada rejeki buat kamu, di simpan buat sekolah, dibagi dengan temanya yang disana dan semoga nenek lekas sehat”.

Dia lalu tersenyum, mengucapkan terima kasih seraya hendak melepas beberapa ikatan kerupuk untuk di berikan kepada saya.


Pengajaran

Beberapa kali di tempat yang sama Ia mencoba menghampiri untuk mengucapkan terima kasih, begitu juga setelah saya kembali dari mengambil beberapa gambar di sekitar tempat tersebut, Ia masih mencoba untuk datang dan menyapa.

Sepanjang perjalanan pulang saya merenung dan memikirkan hal tersebut, mungkin anak tersebut memang benar-benar membutuhkan.

Kehidupan terkadang penuh dengan kejutan yang tidak terencana. Dan saya sangat bersyukur untuk malam ini, karena telah mendapatkan sebuah pengajaran yang tentunya mengingatkan kembali untuk terus dan lebih bersyukur serta berbagi. Tentang hal-hal kecil yang mungkin remeh dan sering terlewatkan, hal tersebut bisa saja sangat berarti bagi orang lain yang benar-benar membutuhkan.

Dan disaat kita mau membuka diri serta berbagi, hal tersebut akan membuat hati lebih tenang. Teruslah hidup, dan berbagilah.